Berita

Dies Natalis XXIV dan Wisuda Sarjana XIV YAPTI

Posted in Yapti on Apr 02, 2012


Dies Natalis yang ke-XXIV dan Wisuda Sarjana yang ke-XIV dengan bangga digelar oleh Yayasan Perguruan Tinggi YAPTI Jeneponto. Bertempat di Gedung Sipitangarri, Jeneponto pada 7 Januari 2012, acara yang membahagiakan ini diisi orasi ilmiah oleh Direktur Program pascasarjana UNM Makassar Prof. Dr. Jasruddin, M.Si. Hadir pula Koodinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi Prof. DR. H. Muhammad Basri Wello, MA, dan Bupati Jeneponto Radjamilo.

Adapun jumlah mahasiswa yang diwisuda: STKIP sebanyak 651. Masing-masing, Pendidikan Bahasa 610; Pendidikan Matematika 20; Pendidikan Biologi 21. Dan STIE sebanyak 253.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan YAPTI Anwar Rivai mengatakan “Menjadi mahasiswa memiliki beban moril dan tanggung jawab tersendiri. Mereka biasa disebut para pecinta dan pencari ilmu, yang haus akan ilmu pengetahuan. Olehnya mereka lahir dan hadir penuh idealisme dan semangat yang murni.” Berikut kata sambutan Ketua Yayasan yang sudah disarikan:

“Syukur Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhana wa Taala atas kesempatan dan kekuatan yang Ia berikan selama ini. Dan di hari ini, seperti di tahun-tahun sebelumnya, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua yang pada hari yang berbahagia ini berkumpul di tempat ini, dalam rangka DIES NATALIS yang ke-24, dan Wisuda Sarjana yang ke-14, Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan Ilmu Pendidikan dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan YAPTI Turatea Jeneponto.

Rasanya belum terlambat, jika di kesempatan ini, saya mengucapkan selamat tahun baru 2012. Semoga semakin maju dan tetap berkarya di tahun ini; menjadi jiwa-jiwa yang mandiri, yang kuat namun tetap ingat pada Allah.

Membicarakan pemindahan tahun, berarti membicarakan penambahan usia. Membicarakan penambahan usia, harusnya diiringi dengan pembicaran tentang kemajuan-kemajuan dan kedewasaan yang disebut profesionalitas. Membicarakan tentang kemajuan dan profesionalitas, tentu tidak lepas dari kesadaran akan tuntutan perubahan-perubahan, yang suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, akan terus terjadi, datang mengajak kita untuk ikut, atau kita tetap tertinggal di tempat.

Berdiri sejak 24 tahun yang lalu di Bumi Turatea, yang ketika itu tak sedikit masyarakat yang meragukan, bahkan memandang sebelah mata, kini Perguruan YAPTI dapat saya katakan dengan bangga adalah satu-satunya perguruan terbesar yang berada di Selatan Sulsel. Dengan jumlah alumni sebanyak 4.882 sarjana yang kini tersebar di pelosok Jeneponto, Kota Makassar, daerah-daerah lain di Sulsel, bahkan secara nasional.

STIE dan STKIP juga semakin dekat kepada masyarakat. Berbagai sarana dan pendukung aktivitas belajar pun semakin ditingkatkan. Gedung Yayasan Pendidikan YAPTI Turatea Jeneponto untuk sementara ini adalah gedung sekolah yang tertinggi dan terbesar di Jeneponto, bahkan di Selatan Sulsel.

Tidak ingin hanya terlihat baik secara fisik saja dan jumlah alumni yang banyak, Perguruan YAPTI terus menaikkan standar kualitas pengajar atau dosen, dari jenjang S1 menjadi S2, dan jenjang S2 menjadi S3. Ini kami lakukan agar kualitas didik mahasiswa YAPTI ikut meningkat, sehingga mampu terserap di dunia kerja, atau bahkan mampu mandiri secara produktif.

Di hadapan saya, kurang lebih 904 orang, sebentar lagi menanggalkan statusnya sebagai mahasiswa, menjadi seseorang yang ‘baru’ dengan gelar SARJANA.

Menjadi mahasiswa memiliki beban moril dan tanggung jawab tersendiri. Mereka biasa disebut para pecinta dan pencari ilmu, yang haus akan ilmu pengetahuan. Olehnya mereka lahir dan hadir penuh idealisme dan semangat yang murni.

Sarjana pun demikian. Memiliki beban moril dan tanggung jawab tersendiri. Apa itu? Tak lain dan tak bukan adalah cap. Semacam stempel yang melekat di dahinya, bahwa sarjana itu adalah orang yang berilmu. Masyarakat mengenalnya seperti itu. Karena berilmu maka tutur kata seorang sarjana harus tertata baik. Seorang sarjana tidak merusak, justru memperbaiki. Seorang sarjana bukan ilusi, justru menjadi solusi. Seorang sarjana menghargai jerihpayahnya mendapatkan ilmu, olehnya ia berkarya, minimal tidak tergantung pada orang lain atau tidak menyusahkan orang lain. Seorang sarjana bukan saja bisa membedakan mana kebaikan dan keburukan, tapi juga bisa melihat kebaikan di antara dua keburukan. Seorang sarjana tahu bahwa dirinya adalah harapan bagi keluarganya, harapan bagi orang-orang yang dicintainya, oleh karenanya ia tidak mengecewakannya. Dan akhirnya, saya percaya, kalian semua adalah sarjana-sarjana yang saya maksud. Kalian pantas menjadi sarjana!!!

Berdiri di sini, seperti biasanya dari tahun ke tahun, di kesempatan kali ini, harus saya sampaikan rasa terima kasih saya kepada almarhum Ayahanda Rivai Pakihi, sosok Bapak yang mandiri, sederhana namun memiliki visi yang jauh ke depan. Karena jasanyalah, banyak generasi TURATEA yang bisa mengeyam pendidikan tinggi, meski ia sendiri tidak berpendidikan tinggi. Beliaulah inspirasi saya. Beliaulah yang mengajar saya bahwa manusia hanya dikenang dari namanya, dan dihargai dari hasil karyanya.

Teruntuk para dosen, staf dan para aktifis kampus, mahasiswa dan semua yang menganggap Perguruan YAPTI sebagai ladang pengabdian, ladang ibadah, ladang pencarian ilmu pengetahuan, secara pribadi dan tulus, saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerja sama yang selama ini terjalin baik. Semoga Allah merihoi semua kerja keras, upaya cerdas, harapan, dan cita-cita kita semua.

Demikian kata sambutan saya ini. Saya akhiri dengan berucap syukur alhamdulillah. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya serta keselamatan bagi kita semua, tanpa terkecuali. Amiiin. [Y]

Kategori

Agenda

AGENDA LAIN

Yapti